Selasa, 13 Mei 2014
Titik Lelah
Dulu, menangis itu tidak mudah.
Kamu tau rasanya jadi aku? Saking bodohnya, aku rela dibuat patah hati berkali-kali hanya untuk bisa bersamamu lebih lama lagi. Dibuat bahagia sebentar, lalu dijatuhkan lagi. Ya, seperti sekarang ini.
Kamu tau rasanya jadi aku? Wanita bodoh yang tak peduli ketika semua orang mengasihaninya karena status tidak jelasnya denganmu. Tak apa, asal denganmu.
Kamu tau rasanya jadi aku? Yang rela dipermainkan olehmu, meski tau pada akhirnya aku takkan menjadi pilihan.
Apa ada wanita yang seperti aku yang bertahan berada di sampingmu tanpa sebuah status? Yang tetap tinggal, meski ia tau ia sedang dipermainkan.
Kalau kamu tidak mengumbar kata sayang, mungkin aku tidak akan seperti ini. Kamu tau jelas tentang perasaanku, tapi mengapa masih main-main?
Mengenalmu, aku bersahabat dengan air mata. Ternyata sekarang mudah sekali untuk menangis. Diabaikan sedikit olehmu saja dapat membuang banyak air mataku.
Hai pecundang, apa kamu masih tidak paham? Berbuat tanpa bertanggung jawab. Ah, disini aku tau, kamu sama sekali tidak peduli. Benar, kan?
Hari ini aku sadar kalau kamu jauh dari yang terbaik. Ini titik lelahku. Aku sedikit menjauh karena lelah menahan getir tiap berurusan denganmu, tapi ternyata rasa sayang tidak mudah pergi secepat itu. Sulit.
Minggu, 11 Mei 2014
Untuk Kekasih Orang Yang Kusayang
Hai…., aku tidak tau harus
memanggilmu apa. Teman? Ah, aku tidak mengenalmu. Mungkin ya, aku mengenalmu,
tapi secara diam-diam. Jangan tertawa, aku bukan penggemarmu, tapi penggemar
kekasihmu.
Baiklah, maafkan ucapanku yang
tidak tau diri itu, tapi aku pun punya hak untuk mencintai, kan? Kalau boleh
memilih, aku pun tidak mau menyukai seseorang yang sudah memiliki kekasih, tapi
kenyataannya tidak bisa. Sedih, mengingat terlalu banyak kontra yang mengatakan
orang seperti aku ini adalah penghancur hubungan orang.
Maaf, aku memang salah.
Kekasihnya orang yang kusayang,
kau tau rasanya menyukai seseorang, kan? Apa kau akan menyerah begitu saja
ketika ada satu penghalang? Mungkin ‘ya’, kalau kau hanya suka, tapi bagaimana
kalau dengan rasa sayang? Apa kau rela untuk berhenti berjuang? Bagaimana kalau
setidaknya kau punya sedikit harapan dari orang yang kau sayang itu? Semuanya
akan kau sia-siakan saja, begitu? Kalau aku, aku tidak mau. Meskipun
penghalangnya adalah kau, aku tidak bisa berhenti, maaf. Kecuali kekasihmu itu
yang meminta.
Kekasihnya orang yang kusayang,
kurasa kita sama-sama bodoh. Pria sepertinya mana bisa diandalkan? Dia tidak benar-benar
menyayangimu, aku yakin. Kalau dia menyayangimu, dia tidak akan mendekatiku
sampai sejauh ini. Sudah selama ini bukan khilaf namanya. Dan dia pun belum
sepenuhnya menyayangiku, karena dia belum bisa meninggalkanmu.
Kekasihnya orang yang kusayang,
lagi-lagi aku merasa tidak enak padamu. Maaf aku sering meminjam kekasihmu.
Maaf, aku memang merebut kebahagiaanmu secara diam-diam. Aku tidak tau caranya
mencari kebahagiaanku sendiri. Kalau semuanya ada pada kekasihmu, aku harus
apa?
Ketika orang ketiga selalu
disalahkan, sampai disebut brengsek. Pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya jadi dia? Yang dia tau
hanya berjuang dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik, lebih pantas untuk
orang yang dicintainya. Dan satu lagi, setahuku orang ketiga tidak selalu
menjadi perebut. Mungkin ada yang hanya bisa menunggu, seperti aku. Salah?
Kekasihnya orang yang kusayang,
jika kau memang lebih baik dariku, aku rela jika akhirnya dia tetap bersamamu.
Tapi bolehkah aku mencoba? Mencoba untuk menunjukkan kalau aku lebih baik
darimu. Kalau aku pun bisa membuatnya nyaman ketika bersamaku. Bolehkah?
Dari perempuan bodoh
yang menyayangi
kekasihmu setengah mati.
Jumat, 02 Mei 2014
Tolong Baca Dan Jawab
Jadi gini,
Aku kangen kamu tanpa jeda.
Aku sayang kamu. Selamat, kamu jadi cowok pertama (selain my
Dad) yang aku sayang.
Boleh Tanya gimana caranya biar aku ilfeel sama kamu? Fisik,
tingkah atau sifat kamu yang jelek rasanya nggak pernah bisa bikin aku ilfeel.
Mau sampai kapan kayak gini? Aku harus nunggu, berhenti
berharap, atau menjauh duluan?
Sayang kamu ke aku bohong atau beneran? Sementara atau..?
Aku benci kalau kamu bilang ‘bingung’. Nggak bisa tegas?
Aku benci liat PM BBM kamu. Serius.
Kalau kamu tetep sama dia, tinggalin aku aja sekarang. Bisa?
Eh jangan, biar aku aja yang pergi. Aku ingin pindah tempat,
dimana disana nggak ada kamu.
Kalau aku sama cowok lain, kamu ngerasa kehilangan aku
nggak?
Aku males temenan sama kamu.
Omong kosong kalau aku milih kayak gini terus. Rasanya bodo
amat mau dijadiin yang kedua juga. Yang penting punya hak buat marah.
Aku capek cemburu terus. Sialnya, aku nggak bisa marah karna
cemburu. Mau nggak mau ditahan.
Bukan aku nggak mau nyapa kamu duluan, tapi kamu tau posisi
aku? Aku cuma nyoba buat tau diri. Jadi nunggu kamu butuh aja. Bodohnya, aku
nggak bisa menghindar kalau kamu udah datang.
Aku malu kalau cerita tentang kamu ke temen-temen, tapi
nggak bisa nahan juga buat pamer. Aku bahagia, tapi orang-orang kasian liat aku
yang bahagia karna pacar orang. Semu, ya.
Dasar jelek, kenapa bikin aku susah lupa?!
Kalau kamu mau tau, aku benci weekend. Kenapa? Soalnya
biasanya kamu sibuk sama pacar atau temen kamu.
Aku sedih kamu ngeraguin aku. Mentang-mentang kita baru
kenal.
Kalau mau main kata gombal, jangan sama aku. Kamu tau kalau aku
anggap semuanya serius?
Berhenti kasih emoticon love, blablabla, deh. Tapi aku suka.
Pertanyaan yang nggak munafik. Kapan putus?
Sorry.
"You can't choose who to love"- o3
Langganan:
Postingan (Atom)




