Hari terus
berlalu. Tidak tau tepatnya kapan, tiba tiba kamu datang mengajakku bicara.
Saat itu juga aku tau kamu tidak akan macam-macam karena kamu sudah memiliki seseorang
disana. Ya, kami berteman.
Aku tidak menyangka perasaan itu terlalu
cepat berubah. Ada yang berbeda dengan kamu. Ingat dulu saat aku sering
tiba-tiba menghilang di malam hari dan kubilang bahwa aku tidak sengaja
tertidur? Aku bohong. Aku hanya malas
untuk berlama-lama bicara denganmu. Takut tumbuh rasa pada satu pihak. Kenyataannya
sekarang apa? Aku yang lebih dulu jatuh pada rasa itu. Mungkin iya kamu
menyukaiku, sekedar suka, tapi berbeda denganku. Aku lebih dari itu.
Suatu hari kamu
bilang kalau kamu terlanjur sayang.
Apa boleh aku percaya? Mungkin hanya orang bodoh seperti aku yang percaya.
Jelas, dari sikapmu saja tak ada yang patut kupercaya. Kamu bingung untuk
memilih. Baiklah, mungkin aku terlalu lancang bila menyuruhmu memilih.
Aku, seseorang
yang mempunyai gengsi yang begitu besar. Untuk pertama kalinya kubilang kalau
aku sangat menyayangi kamu. Kalau saja kamu tau, bicara seperti itu pada
kekasih sendiri pun aku tidak pernah. Kamu tau kenapa aku memberanikan diri
untuk mengatakan hal memalukan seperti itu? Aku hanya ingin jujur. Bukankah
jujur adalah kunci? Kupikir dengan begitu kamu akan mempertimbangkan aku. Ya,
aku patut diperjuangkan juga.
Kupikir waktu sudah berlalu cukup lama. Kamu tak juga menghentikanku. Kamu masih menikmati tontonan dimana aku berjuang sendiri, memakan hati yang mungkin telah membusuk.
Kupikir waktu sudah berlalu cukup lama. Kamu tak juga menghentikanku. Kamu masih menikmati tontonan dimana aku berjuang sendiri, memakan hati yang mungkin telah membusuk.
Rasanya sangat
menyedihkan bila ingat dulu. Bukankah kamu yang masuk, mengusik kehidupanku
lebih dulu? Kenapa terkesan aku yang salah? Seolah aku yang mengganggu
kehidupan kalian dan akulah yang harus pergi.
Kalau saja kamu
tau bagaimana sakitnya aku ketika tersadar semua bahagia yang aku rasakan
bersama kamu itu hanya semu. Bahagia, tapi tidak bernyawa. Tapi aku bisa apa?
Memaksa kamu untuk memilih aku? Bukan sok suci, tapi aku tidak seburuk itu.Kalau saja kamu menyuruhku untuk pergi, aku akan pergi. Tapi saat itu kamu bilang 'kita jalani saja'.
Jalani saja kamu
bilang? seharusnya kamu saja yang jalani bersama kekasihmu itu. Jika kalian
gagal, kamu tidak perlu khawatir. Ya, sekalipun aku menjauh, kamu tidak akan
benar-benar kehilangan aku.
Karena
kenyataannya kamu tidak menyuruhku pergi, mau tidak mau aku hanya dapat
menikmati rasa bahagia yang selagi bisa aku rasakan bersama kamu, walau semu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar